Waingapu, 17 September 2017
Injil
Yohanes. 8 : 1 – 11
Saudara–saudara
yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
"Barangsiapa
di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada
perempuan itu." Itulah perkataan Yesus kepada orang-orang Farisi
dan ahli-ahli Torat itu. Pertanyaannya Siapakah yang tidak berdosa? Tidak ada
yang tidak berbuat dosa. Semua berbuat berdosa. Dalam Mazmur. 51; 7 Daud
mengatakan:
Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam
dosa aku dikandung ibuku. Demikian juga dalam suratnya kepada sidang di Roma
Paulus mengatakan:
"Tidak ada yang benar, seorang pun
tidak.Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang
mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak
ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. (Rom. 3: 10-12).
Jika demikian berarti tidak ada yang berani
mengulurkan tangannya mengambil batu lalu melempar perempuan itu. Tetapi
bukankah ahli-ahli Torat dan orang-orang Farisi itu selalu menganggap dirinya
suci alias tidak berdosa? Tetapi di depan Yesus mereka tidak dapat
menyembunyikan dirinya. Meskipun mereka tidak mengakuinya secara langsung
tetapi sikap mereka menegaskan bahwa mereka juga berbuat dosa.
Kita semua juga berdosa. Tetapi terkadang kita
tidak menyadari dan insaf akan hal ini. Sehingga terkesan dan nampak dalam
tindakan, perbuatan dan perkataan kita, kita menghakimi sesama kita tanpa kasih.
Bahkan kita tidak merasa bersalah/berdosa dengan menuduh, menghakimi dan
menghukum sesama kita. Begitu gampanag/mudah kita menuduh dan menghakimi
sesama. Bahkan terkadang itu menjadi keseharian kita. Sehingga sepertinya hal menghakimi
orang adalah hal yang biasa. Dan karena biasa merasa nikmat dan enak menuduh dan
menghakimi orang lain. Kita tidak sadar bahwa dengan berbuat demikian kita
tidak mencerminkan Injil Yesus Kristus itu. Begitulah perlahan-lahan tapi pasti Kasih yang di
berikan Kristus itu mulai pudar dan terkikis dari kehidupan kita. Kita tidak bertanya diri: Siapakah kita terhadap
sesama kita? Siapakah kita terhadap masalah yang menimpa sesama kita? Sehingga
kita berani menuduh dan menghakiminya?
Mari kita lihat bersama-sama apa yang dikatakan
rasul Yohanes dalam pasal ini. apakah hal itu juga disadari oleh orang-orang
Farisi dan Ahli-ahli Torat itu? Yohanes mencatat dalam Injilnya; Jika Yesus
pagi-pagi benar telah berada lagi di Bait Allah untuk mengajar mereka yang
datang kepada-Nya. Tidaklah demikian dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Torat. Sebagai para pemimpin umat mereka seharusnya
berada di tengah-tengah umat itu; berada di bait Allah untuk mengajar umat
Allah. Mereka harusnya gencar dan bertekun mengajar umat itu dalam
kebenaran Sabda itu. Akan tetapi bukan
itu yang mereka lakukan. Dan kalaupun mereka ada di tengah-tengah umat Allah mereka
melakukan itu hanya demi sebuah ketenaran dan popularitas. Tujuannya agar
posisinya tetap mantap, stabil dan bertambah di kenal. Mereka gencar dan
bertekun melakukan banyak hal hanya untuk mempertahankan posisi/kedudukan
mereka. Termasuk diantaranya ketika mereka mencari-cari kesalahan untuk
menjebak Yesus. Tujuannya hanya untuk menjatuhkannya dan dengan demikian mereka
tetap di kenal sebagai pemimpin yang baik. Sebab kehadiran Yesus membuat mereka
tidak nyaman. Kehadiran Yesus membuat Popularitas mereka menurun; sebab mereka
semakin kehilangan pengikutnya dan tidak di percayai lagi. Kedudukan mereka
sebagai pemimpin sangat terganggu.
Untuk menjebak Yesus mereka membawa seorang
perempuan yang kedapatan Berzinah. Lalu seperti apakah tindakan Yesus terhadap
perempuan itu? Apakah Yesus mengatakan sesuai hukum Musa perempuan ini layak di rajam dengan batu? Atau apakah Yesus
melepaskan saja perempuan itu tanpa tindakan apapun? Yang pertama kita membaca
Yesus menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan itu dilakukannya dua kali. Apa yang
di tulis-Nya kita tidak tahu. Dan menanggapi pertanyaan mereka secara langsung
tentu tidak terlalu penting. Karena mereka datang hanya untuk menjebak-Nya.
Mereka datang bukan dengan motif yang baik.
Sikap Yesus ini tentu sangat membuat malu ahli-ahli Torat dan
orang-orang Farisi itu.
Saudara-saudara, tidak perlu kehilangan energi
menanggapi orang-orang yang datang dengan motif seperti itu. Sebab bagi mereka
jawabanmu yang tepatpun tidak akan berguna. Sama halnya dengan Yesus di sini
bila Yesus menjawab di rajam saja. Maka itu akan di jadikan alasan untuk
menfitnah Yesus. Mereka bisa menuduh Yesus orang yang plan plin, orang yang
tidak komitmen dan yang tidak tetap pendirian. Dan orang yang tidak komit tidak
layak di jadikan panutan. Dan jika Yesus mengatakan jangan. Yesus akan di
fitnah melawan hukum Musa. Karena itu dalam hal seperti ini kita harus belajar
dari Yesus Kristus. Dan seperti Firman Tuhan mengatakan; ujilah segala roh
apakah itu berasal dari Allah atau tidak. Kita harus bisa menilai dengan baik apa
motif dari orang tersebut menanyakan dan melakukan itu.
Yang kedua Yesus mengatakan: "Barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia
yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Mendengar perkataan Yesus itu mereka diam, terkejut,
terpaku dan tidak ada seorang pun yang berani melempar batu kepada perempuan itu karena mereka semua merasa diri
berdosa. Dan satu persatu mereka
pulang hingga tinggal Yesus sendiri dengan perempuan itu.
Saudara-saudara yang kekasih, ahli-ahli Torat dan
orang-orang Farisi adalah orang-orang yang merasa dirinya paling benar, suci, merasa dirinya saleh, merasa dirinya hidup
baik dan tidak pernah merasa diri berdosa. Sikap hidup inilah yang membuat mereka dengan mudah menghakimi
orang lain. Sebab itu bagi mereka
hanya ada satu pilihan saja yakni melempari perempuan yang berzinah itu dengan
batu hingga mati. Begitu kejam dan bengis tindakan ahli-ahli Torat dan
oranag-orang Farisi itu. Sungguh ketidakadilan tanpa di sadari oleh mereka
sedang berlangsung. Jika benar perempuan i tu ketangkapan berzinah;
pertanyaannya mengapa perempuan itu saja yang di bawa? Bukankah laki-laki itu
juga layak di lempari dengan batu? Sebabnya
adalah motifnya yang salah. Bukan karena mereka sungguh berpegang pada hukum
Musa. Bukan karena mereka ingin menegakkan Kebenaran itu. Tetapi hukum Musa hanya di pakai untuk meloloskan
niat mereka yang jahat. Sabda Allah di pakai hanya untuk membela dan sebagai
alasan yang kuat untuk menutupi kejahatan mereka yang terselubung. Dan ini
adalah kejahatan yang sangat berbahaya. Karena tidak saja menghancurkan
bagian-bagian tertentu dari kehidupan seseorang. Cara ini benar-benar
menghancurkan semua yang ada dan yang di miliki seseorang. Dalam Gereja sering
Firman TUHAN dan Aturan Gereja di pakai. Tetapi kerapkali hanya untuk membela
diri dan akan menunjukkan apa yang dikatakannya benar. Begitu banyak ahli-ahli
Torat dan orang-orang Farisi masa kini. Mereka memakai Sabda Allah bukan karena
ingin menegakkan Kebenaran itu; bukan karena kasih akan TUHAN. Karena motifnya
untuk balas dendam dan untuk menunjukkan bahwa mereka juga bisa. Tetapi jangan
lupa apapun juga yang di lakukan bila motifnya salah maka hasilnya akan
buruk.
Karena itu anak-anak Tuhan harus keluar dan
meninggalkan kehidupan yang demikian. Anak-anak TUHAN bukannya memiliki
kecenderungan untuk menghakimi dan menuduh orang lain begitu saja; untuk
mencari rasa nyaman dan membalaskan dendam karena sakit hati mereka, sebab
pernah di buat terluka. Tidak harus seperti itu tetapi kita harus memiliki kecenderungan
untuk terus memperbaiki apa yang telah rusak. Dan terus membenahi hal-hal yang
perlu di benahi dalam diri kita.
Sehingga tidak harus menghukum dengan melempari
perempuan itu dengan batu karena dosa Zinah yang di lakukannya. Tetapi
melakukan tindakan yang tepat dan benar yang membawa perempuan itu kepada
tobat. Hingga akhirnya ia di selamatkan. Sebab jika perempuan itu di hukum
karena dosa Zinah yang di lakukannya; bukankah mereka juga berbuat dosa?.
Mungkin mereka tidak berzinah seperti perempuan itu. Tetapi dalam dosa lain
mereka berkanjang. Seperti dalam hal dusta; mencobai; mencaci maki orang dan
sebagainya. Siapakah yang tidak berdosa? Tentu semua berbuat dosa. Dan karena
rasa diri berbuat dosa satu persatu pergi meninggalkan Yesus.
Seharusnya jika hal ini yang kita alami bukannya pergi meninggalkan Yesus. Tetapi dengan
rendah hati mengakui dosa kita di hadapan TUHAN. Hari ini orang Kristen di tegur
karena dosa yang di lakukannya langsung pergi dan meninggalkan Gereja. Bukan
itu yang kita lakukan sebaliknya mengakui perbuatan dosa kita di hadapan-Nya
dengan rendah hati. Sebab lebih baik kekuranganmu atau perbuatanmu di
telanjangi daripada tidak.
Lalu bagaimanakah tindakan Yesus terhadap
perempuan itu? Meskipun Yesus tidak berdosa, Ia tidak mengambil batu lalu
melempari perempuan itu. Tetapi memberi
penegasan yang sangat menghibur perempuan itu dan mengajukan pertanyaan; Dimanakah
mereka? Tidak adakah dari antara mereka yang melempari engkau dengan batu? ....
"Akupun
tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari
sekarang." Tidak dapat di
bayangkan sukacita besar yang dialami perempuan itu. Benar-benar ia telah
terlepas dari maut yang mengancam hidupnya. Sungguh ia tidak menyangka itu akan
terjadi dan dialaminya. Tadinya dia hanya membayangkan batu-batu yang di lempar
menimpa tubuhnya. Sudah perkara pasti
sekujur tubuhnya akan berlumuran darah. Akan tetapi semua itu tidak lagi
menimpa dirinya. Tidak ada satu batupun yang di lempar dan tidak ada seorangpun
yang berani mengulurkan tangannya mengambil batu dan melemparinya. Sebab
berdosa. Demikianlah Yesus telah mengambil batu-batu itu, batu-batu itu tidak
mengenai dan mnimpa perempuan itu lagi. Tubuhnya tidak lagi menderita sakit
karena tertimpa batu. Yesus telah menyelamatkannya. Dosa-dosanya yang banyak
itu di ampuni. Pergilah dan jangan lagi berbuat dosa mulai dari sekarang.
Itulah pesan Yesus kepadanya. Itulah Injil atau kabar baik yang bukan saja hari
itu di dengar oleh perempuan itu juga hingga sekarang Kabar baik itu di
beritakan kepada kita semua juga hari ini. Kita tidak berbeda dari perempuan,
kita layak di rajam dengan batu; kita layak mati karena dosa-dosa kita. Tetapi
batu-batu itu telah mengenai dan menimpa Yesus. Ia telah menanggung hukuman itu
ganti kita. Tubuh-Nya berlumuran darah. Sekarang kita boleh pergi; kita boleh
menikmati kebebasan itu. Kita boleh di lepaskan dari kematian itu. Karena itu jangan berbuat dosa lagi
mulai dari sekarang. Bukan nanti atau tunggu, tetapi mulai dari sekarang yakni
sejak engkau di panggil dan di selamatkan; jangan dan jangan berbuat dosa lagi.
Bukan besok dan nanti tapi mulai dari sekarang. Jangan tunda dan mengatakan ada
waktunya saya bertobat. Sebelum terlambat, sebelum pintu di kunci dari dalam
dan sebelum Yesus mengatakan; Aku tidak mengenal kamu. Bertobatlah!!!! Jangan,
jangan dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang
Amin
gak guna asli
BalasHapuskesimpulannya gak jelas,
HapusTerima kasih
BalasHapus