Rabu, 25 Oktober 2017

Khotbah Katekhismus Minggu 7 SJ 20-23



Waingapu, 22 Oktober 2017

Baca : Kitab Roma. 4 : 1 – 25  
Nas   : KH M 7 sj 20-23  

Saudara – saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Dalam Minggu di jelaskan tentang PERCAYA. Dan sehubungan dengan itu ada tiga hal penting yang dijelaskan:
Hal yang pertama tentang Apakah yang di buat atau yang di kerjakan oleh Percaya itu?
Hal yang kedua tentang Apakah sebenarnya Percaya itu?
Dan hal yang ketiga tentang Apakah Isi percaya itu?
 Tiga hal itulah yang di jelaskan dalam Minggu ini. Kita sering berbicara tentang Percaya. Sebagai orang Kristen kita senang sekali bila orang menyebut kita; orang percaya. Selain dari itu kita juga tidak malu akan menyebut diri orang Percaya. Mengapa? Karena bagi orang Percaya ada janji dimana TUHAN menjanjikan Keselamatan itu. Artinya Bagi orang Percaya tidak ada hukuman lagi.
Akan tetapi mari kita bersama melihat dan merenungkan apa yang di jelaskan dalam Minggu ini tentang Percaya itu. Apakah Percaya yang kita tahu dan yang kita miliki saat ini sudah sesuai dan sudah tepat seperti yang diajarkan Firman itu?
Mari kita lihat tiga hal yang tadi kita sebut. Hal yang pertama yang kita renungkan adalah apakah yang di kerjakan atau di buat oleh Percaya itu? Dan sehubungan dengan pokok itu ada sebuah pertanyaan yang diajukan yakni; “Adakah segala orang di selamatkan pula dalam Kristus sebagaimana mereka terkutuk dalam Adam?” Jawaban yang di berikan adalah berbunyi Tidak (segala orang diselamatkan), tetapi hanyalah mereka, yang oleh percaya yang sejati dimasukkan dalam tubuhNya dan menerima segala kebajikan-Nya. Artinya sekalipun  didalam kejatuhan Adam semua manusia telah terkutuk tidak berarti bahwa secara otomatis didalam Kristus manusia itu di selamatkan. Benar Yesus adalah Kepala umat Manusia PB tetapi itu tidak harus di jadikan alasan bahwa semua manusia otomatis di selamatkan. Itu bukan jaminan. Demikian juga menjadi orang Kristen saja bukanlah jaminan bahwa kita di selamatkan. Yang di selamatkan adalah mereka yang oleh Percaya sejati di masukkan dalam tubuh-Nya dan menerima segala kebajikan-Nya. Mereka yang oleh Percaya yang sejati. jadi bukan hanya Percaya saja seperti dikatakan orang hari ini. Tetapi Percaya sejati yakni percaya murni atau tulen; percaya yang tidak ada campurannya. Percaya yang mengerjakan bagi kita dua hal penting tadi yakni
Yang pertama dimasukkan dalam tubuh-Nya
Yang kedua Menerima segala kebajikan-Nya
Dua hal tersebut di kerjakan oleh Percaya sejati itu dalam setiap pribadi anak-anak TUHAN. Dimasukkan dalam tubuh-Nya berarti menjadi satu dengan Kristus. Kata dimasukkan itu sama dengan kata diisapkan. Yang berarti bukan kita sendiri tetapi oleh Percaya yang sejati yang di kerjakan Roh dan Sabda itu yang membuat kita menjadi satu dengan Kristus. Dan menjadi satu dengan Kristus berarti Kristus didalam kita dan kita didalam Kristus. Keinginan Kristus menjadi keinginan kita. Bukan malah bertentangan dengan keinginan Kristus. Karena itu jika kita mengaku orang Percaya maka kita harus memeriksa diri apakah kita benar telah menjadi satu dengan Kristus. Apakah yang kita lakukan dalam hidup ini telah berpadanan atau sesuai dengan Keinginan Kristus? Yang kedua orang percaya Menerima segala kebajikan-Nya yakni menerima Keampunan dosa, Keadilan dan hidup yang kekal. Orang yang tidak memiliki percaya sejati tidak mungkin menerima itu. Kita melihat begitu banyak orang Kristen yang ragu dan bimbang akan kebajikan Allah itu dalam hidup mereka. Mereka meragukan apakah dosanya telah di ampuni, apakah mereka mendapat keadilan dan apakah mereka di selamatkan? Sesungguhnya jawabannya adalah karena mereka belum memiliki Percaya  sejati itu. Dimana ada percaya sejati di sana pasti tidak akan ada keraguan dan kebimbangan. Disana kita tidak berkata benarkah Allah mengampuni dosa saya? Benarkah saya di selamatkan? Karena itu pertanyaannya untuk menjadi perenungan bagi kita benarkah kita telah memiliki percaya sejati itu? Jika kita adalah salah seorang yang meragukan pengampunan, keadilan dan keselamatan dalam Kristus Yesus berarti engkau belum memiliki Percaya sejati itu.
Lalu apakah Percaya yang sejati itu? Dalam Ibrani 11:1 mengatakan Percaya adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Dengan sengaja kami memakai kata Percaya ketimbang Iman. Sebab kata iman menegaskan bahwa perbuatan Baik adalah dasar keselamatan itu. Dan itu bertentangan dengan pengajaran Injil yang menegaskan bahwa orang di selamatkan oleh rahmat Allah, oleh Percaya. Percaya adalah dasar/fondasi darimana kita dapat berpijak. Dimana kita meletakkan seluruh pengharapan kita. Percaya adalah bukti yang menyakinkan kita tentang Hidup yang kekal yang disediakan Allah bagi kita. Percaya itulah yang meyakinkan kita meskipun kita tidak melihat tetapi kita yakin bahwa kita akan memperoleh apapun yang di janjikan Allah dalam Firman-Nya. Dalam soal jawab 21 di jelaskan bahwa Percaya itu adalah Pengetahuan yang Pasti. Bukan pengakuan yang didalamnya terdapat banyak keraguan atau ketidakpastian. Pengakuan yang benar dan keyakinan yang kokoh bersumber dari sebuah pengetahuan yang pasti. Dan Alkitab/Firman Allah memberi kita pengetahuan yang pasti tentang siapakah Allah itu. Pengetahuan yang pasti tidak bertumbuh atau datang begitu saja. Tetapi bertumbuh atau datang dari Firman itu itu. Karena itu kita harus belajar terus menerus akan Kebenaran itu. Bertekun didalamnya supaya mengenal dengan baik siapakah ALLAH itu? Sebab dimana ada pengenalan yang benar tentang Allah di sana pasti ada pengetahuan yang pasti. Banyak orang Kristen yang tidak memiliki pengetahuan yang pasti tentang Allah. Karena itu mereka meragukan kemahakuasaan-Nya. Mereka meragukan perlindungan-Nya. Mereka meragukan pertolongan-Nya, penyertaan-Nya, Perlindungan-Nya dan sebagainya. Dalam Gereja Pengetahuan yang pasti tentang Allah dan Kebenaran-Nya belum di miliki. Hal itu nyata dalam hal dimana banyak orang yang berulang-ulang kali terjerumus dalam dosa dan pelanggaran yang sama. Selain dari itu mereka hanya memiliki pengetahuan tentang Allah dan Kebenaran-Nya untuk separuh waktu saja. Dan untuk kepentingan-kepentingan mereka karena mereka memerlukannya. Sehingga pengetahuan itu hanya bersifat sementara saja. Yang kedua Percaya sejati itu adalah kepercayaan yang teguh. Kepercayaan yang tidak terombang-ambing lagi. Bukan percaya setengah-setengah. Kepercayaan yang teguh adalah sebuah penyerahan diri secara Totalitas. Jangan karena susah atau dalam kesulitan terus menyerahkan diri. Lalu dikala senang menjauhkan diri dari TUHAN. Jadilah itulah yang dimaksudkan dengan percaya sejati. Jadi kalau tidak ada pengetahuan yang pasti tentang Allah dan kebenaran-Nya dan tidak ada kepecayaan yang teguh; jangan sombong dan mengklaim diri sebagai orang Percaya. 
Hal yang ketiga di jelaskan tentang apakah Isi Percaya itu atau siapakah yang kita Percaya? Dalam minggu ini di jelaskan bahwa Isi percaya kita adalah Semuanya yang telah dijanjikan kepada kita dalam Injil, y.i. yang diajarkan kepada kita dalam suatu ringkasan di dalam pasal-pasal
percaya-kristen, yang am dan pasti. Dan 12 Pengakuan Rasuli itu di ringkaskan lagi  ALLAH Tritunggal, yakni Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Tanpa itu kita memiliki percaya yang kosong. Dan kebanyakan orang Kristen punya percaya yang kosong. Akibatnya menjadi orang Kristen yang labil, yang tidak taat, yang mmberontak, yang tidak cukup kuat untuk tetap bertahan dan sebagainya. Jangan menjadi orang Kristen yang tidak tahu siapa yang mereka percaya dan yang tidak tahu tentang apa yang dijanjikan TUHAN dalam Firman-Nya. Karena itu belajar dengan tekun akan Firan Allah. Jangan Alkitab di jadikan kelengkapan isi tas, jangan di jadikan hiasan di tangan, jangan di buang atau sekedar untuk bagaya doang yakni sengaja pegang Alkitab supaya orang tahu bahwa mereka beribadah.
Bagaimanakah dengan kita saudara-saudaraku? Benarkah saudara-saudara mengaku bahwa hanya oleh Percaya kepada Allah Tritunggal itu suadara-saudara di selamatkan?  Biarkanlah Sabda TUHAN itu menuntun kita  untuk kita memeiliki pengetahan yang pasti dan kepercayaan yang teguh.

Amin









Khotbah Katekhismus Minggu 6 Sj 16 - 19



Waingapu, 24 September  2017

Baca                : Mazmur. 130 : 1 – 8
Nas                  : KH M 6 sj 16-19  

Saudara–saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Dalam nas kita di jelaskan tentang Mengapa Yesus Kristus yang memiliki peri (sifat; keadaan), yakni sebagai
-          Manusia sejati dan adil
-          Dan Allah sejati
Dan bagaimana kita bisa tahu bahwa Kristus punya dua tabiat (keadaan) seperti itu. Dijelaskan bahwa Alkitab sudah menjelaskan hal itu. Dalam PL dan PB sudah di jelaskan tentang Yesus Kristus yang adalah Manusia sejati dan Adil dan Allah sejati. Dan disini nas-nas itu di kutip supaya kia melihat dasar-dasar Alkitabiahnya dimana. Dan dengan demikian kita boleh memiliki pengetahuan yang benar tentang kebenaran itu. Sebab kalau hanya di jelaskan bahwa Yesus itu pengantara yang perinya Manusia sejati dan Allah sejati saja tanpa ayat-ayat alkitabiah yang menjadi referensi; maka Kebenaran tentang pokok ini akan di ragukan. Kita akan bertanya benarkah seperti itu? Secara logika tidak dapat di mengerti mengapa Yesus memiliki tabiat/keadaan seperti itu. Karena itu orang menolak pokok ini sebagai Kebenaran. Mereka mengatakan bagaimana mungkin ada dua tabiat/keadaan dalam satu pribadi? Bagaimana Yesus menjadi manusia sejati dan sekaligus Allah sejati? Sampai kapanpun juga Logika kita tidak mungkin menolong kita untuk keluar dari masalah ini. Karena logika kita sangat terbatas untuk memahami semua pernyataan Allah dalam Firman-Nya. Tetapi kita bersyukur karena Alkitab menjelaskan hal itu kepada kita; apa sebabnya Ia menjadi Manusia sejati dan Allah sejati? Dan bagaimana hal itu di beritakan dalam PL
       Mengapa Yesus harus menjadi manusia sejati dan adil?  Jawaban yang di berikan disini begitu baik. Sebab keadilan Allah menuntut bahwa tabiat manusia yang telah berbuat dosa juga memampas karena dosa itu, sedang seorang manusia yang sendiri berdosa tidak dapat memampas ganti orang lain.
       Itulah alasannya! Singkatnya karena keadilan Allah maka itu harus terjadi. Keadilan Allah harus dilakukan. Dan inilah keadilan Allah itu manusia yang berbuat dosa manusia harus memampas/ menebus utang dosa yang di perbuatnya. Dan orang yang bisa melakukan itu adalah orang yang betul-betul manusia dan tidak berdosa. Orang berdosa tidak mungkin bisa melakukannya. Dan hanya Yesus yang bisa melakukan itu! Sebab Ia adalah manusia sejati dan adil dan tanpa dosa. Dari mana kita tahu hal itu; bahwa hanya Yesus saja yang bisa? Firman Tuhan menjelaskan hal kepada kita. Yesus menjadi Manusia sejati; Dia mengambil darah dan daging anak dara Maria. Dia menjadi sama dengan kita berkecuali dosa. Itulah sebabnya Yesus dapat menyelamatkan kita. Karena hanya Dia yang bisa memenuhi tuntutan Allah itu. Dalam suratnya kepada sidang TUHAN di Korintus Paulus menegaskan (2 Kor. 5:21): Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. Jadi Yesus harus menjadi manusia dan Adil supaya Ia bisa menyelamatkan kita.
       Lalu apa sebabnya Ia menjadi Allah sejati? Jawabannya disini berbunyi; Supaya Ia, dengan kuasa keilahanNya, dapat menanggung beban murka Allah atas kemanusiaanNya, lalu memperoleh bagi kita serta mengembalikan kepada kita keadilan dan kehidupan. Tidak mudah menanggung beban murka Allah atas dosa. Yang bisa menanggung itu hanya Yesus saja. Sebab Dia adalah Allah sejati. Sebagai Allah sejati Yesus punya kuasa akan menanggung beban murka Allah yang dasyat. Sebab jika Yesus hanya Manusia sejati saja Dia tidak mungkin bisa menanggung beban murka Allah itu. Kedasyatan murka Allah nyata diatas kayu salib itu. Dimana Yesus berseru: Eli Eli lama sabakhtani yang artinya Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku? Yesus benar-benar merasa di tinggalkan oleh Allah. Tetapi meskipun demikian Ia tetap mencari Allah. Dan kita melihat dimana Yesus bisa melakukan apa yang di tuntut oleh Allah dalam Torat-Nya. sebab itu Ia mengatakan sudah Selesai. Demikianlah Ia mengembalikan Keadilan dan kehidupan kepada kita. Artinya dengan berbuat demikian kita yang tadinya harus menjalani tuntutan Allah itu dan harus menanggung hukuman mati. Sekarang tidak lagi mengalami semua itu. Yesus sudah mengganti kita. Dia sudah menanggung semuanya ganti kita.
       Saudara-saudara yang kekasih, Bilakah Allah telah berbuat seperti itu bagi kita; yakni didalam Yesus Allah telah mengaruniakan, penebusan dari segala dosa kita; Keselamatan, dan seterusnya. Maka sudah selayaknya kita selalu hidup bersyukur dan mempermuliakan nama-Nya. Dan kita terapkan itu dalam kehidupan ini dalam hal bagaimana kita hidup sebagai orang-orang yang telah diselamatkan. Kita meninggalkan segala keburukan kita dan terus belajar dari Injil itu. Sebab hanya dengan hanya dengan terus belajar dari Firman-Nya kita mengenal Dia dengan baik. Dan ketika kita mengenal siapa Yesus itu maka kita pasti akan mengasihi Dia dengan benar. Dan berbakti kepada-Nya dengan setia.
       Karena itu mari kita memeriksa diri dan bertanya diri apakah kita telah mengenal Yesus bahwa Dia adalah Manusia sejati dan Allah sejati? Lalu bagaimanakah engkau memaknai hal itu dalam kehidupan ini? Dia Manusia sejati sama dengan kita berkecuali dosa; itulah berarti bahwa Yesus itu memahami dan mengerti apa yang engkau alami saat ini. Dia adalah Allah sejati; dalam kuasa ke-Illahan-Nya Ia dapat menanggung segala beban hidup yang engkau hadapi saat ini. Apapun juga bebanmu saat ini ingatlah Yesus itu Manusia sejati dan Allah sejati bagi kita.

Amin 

Khotbah Yohanes. 8: 1 - 11




Waingapu, 17 September 2017

Injil Yohanes. 8 : 1 – 11

Saudara–saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Itulah perkataan Yesus kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Torat itu. Pertanyaannya Siapakah yang tidak berdosa? Tidak ada yang tidak berbuat dosa. Semua berbuat berdosa. Dalam Mazmur. 51; 7 Daud mengatakan:
Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku. Demikian juga dalam suratnya kepada sidang di Roma Paulus mengatakan:
"Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. (Rom. 3: 10-12).
Jika demikian berarti tidak ada yang berani mengulurkan tangannya mengambil batu lalu melempar perempuan itu. Tetapi bukankah ahli-ahli Torat dan orang-orang Farisi itu selalu menganggap dirinya suci alias tidak berdosa? Tetapi di depan Yesus mereka tidak dapat menyembunyikan dirinya. Meskipun mereka tidak mengakuinya secara langsung tetapi sikap mereka menegaskan bahwa mereka juga berbuat dosa.
Kita semua juga berdosa. Tetapi terkadang kita tidak menyadari dan insaf akan hal ini. Sehingga terkesan dan nampak dalam tindakan, perbuatan dan perkataan kita, kita menghakimi sesama kita tanpa kasih. Bahkan kita tidak merasa bersalah/berdosa dengan menuduh, menghakimi dan menghukum sesama kita. Begitu gampanag/mudah kita menuduh dan menghakimi sesama. Bahkan terkadang itu menjadi keseharian kita. Sehingga sepertinya hal menghakimi orang adalah hal yang biasa. Dan karena biasa merasa nikmat dan enak menuduh dan menghakimi orang lain. Kita tidak sadar bahwa dengan berbuat demikian kita tidak mencerminkan Injil Yesus Kristus itu. Begitulah perlahan-lahan tapi pasti Kasih yang di berikan Kristus itu mulai pudar dan terkikis dari kehidupan kita. Kita tidak bertanya diri: Siapakah kita terhadap sesama kita? Siapakah kita terhadap masalah yang menimpa sesama kita? Sehingga kita berani menuduh dan menghakiminya?
Mari kita lihat bersama-sama apa yang dikatakan rasul Yohanes dalam pasal ini. apakah hal itu juga disadari oleh orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Torat itu? Yohanes mencatat dalam Injilnya; Jika Yesus pagi-pagi benar telah berada lagi di Bait Allah untuk mengajar mereka yang datang kepada-Nya. Tidaklah demikian dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Torat. Sebagai para pemimpin umat mereka seharusnya berada di tengah-tengah umat itu; berada di bait Allah untuk mengajar umat Allah. Mereka harusnya gencar dan bertekun mengajar umat itu dalam kebenaran  Sabda itu. Akan tetapi bukan itu yang mereka lakukan. Dan kalaupun mereka ada di tengah-tengah umat Allah mereka melakukan itu hanya demi sebuah ketenaran dan popularitas. Tujuannya agar posisinya tetap mantap, stabil dan bertambah di kenal. Mereka gencar dan bertekun melakukan banyak hal hanya untuk mempertahankan posisi/kedudukan mereka. Termasuk diantaranya ketika mereka mencari-cari kesalahan untuk menjebak Yesus. Tujuannya hanya untuk menjatuhkannya dan dengan demikian mereka tetap di kenal sebagai pemimpin yang baik. Sebab kehadiran Yesus membuat mereka tidak nyaman. Kehadiran Yesus membuat Popularitas mereka menurun; sebab mereka semakin kehilangan pengikutnya dan tidak di percayai lagi. Kedudukan mereka sebagai pemimpin sangat terganggu.
Untuk menjebak Yesus mereka membawa seorang perempuan yang kedapatan Berzinah. Lalu seperti apakah tindakan Yesus terhadap perempuan itu? Apakah Yesus mengatakan sesuai hukum Musa perempuan ini layak di rajam dengan batu? Atau apakah Yesus melepaskan saja perempuan itu tanpa tindakan apapun? Yang pertama kita membaca Yesus menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan itu dilakukannya dua kali. Apa yang di tulis-Nya kita tidak tahu. Dan menanggapi pertanyaan mereka secara langsung tentu tidak terlalu penting. Karena mereka datang hanya untuk menjebak-Nya. Mereka datang bukan dengan motif yang baik.  Sikap Yesus ini tentu sangat membuat malu ahli-ahli Torat dan orang-orang Farisi itu.
Saudara-saudara, tidak perlu kehilangan energi menanggapi orang-orang yang datang dengan motif seperti itu. Sebab bagi mereka jawabanmu yang tepatpun tidak akan berguna. Sama halnya dengan Yesus di sini bila Yesus menjawab di rajam saja. Maka itu akan di jadikan alasan untuk menfitnah Yesus. Mereka bisa menuduh Yesus orang yang plan plin, orang yang tidak komitmen dan yang tidak tetap pendirian. Dan orang yang tidak komit tidak layak di jadikan panutan. Dan jika Yesus mengatakan jangan. Yesus akan di fitnah melawan hukum Musa. Karena itu dalam hal seperti ini kita harus belajar dari Yesus Kristus. Dan seperti Firman Tuhan mengatakan; ujilah segala roh apakah itu berasal dari Allah atau tidak. Kita harus bisa menilai dengan baik apa motif dari orang tersebut menanyakan dan melakukan itu.
Yang kedua Yesus mengatakan: "Barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Mendengar perkataan Yesus itu mereka diam, terkejut, terpaku dan tidak ada seorang pun yang berani melempar batu kepada perempuan itu karena mereka semua merasa diri berdosa. Dan satu persatu mereka pulang hingga tinggal Yesus sendiri dengan perempuan itu.
Saudara-saudara yang kekasih, ahli-ahli Torat dan orang-orang Farisi adalah orang-orang yang merasa dirinya paling benar, suci, merasa dirinya saleh, merasa dirinya hidup baik dan tidak pernah merasa diri berdosa. Sikap hidup inilah yang membuat mereka dengan mudah menghakimi orang lain. Sebab itu bagi mereka hanya ada satu pilihan saja yakni melempari perempuan yang berzinah itu dengan batu hingga mati. Begitu kejam dan bengis tindakan ahli-ahli Torat dan oranag-orang Farisi itu. Sungguh ketidakadilan tanpa di sadari oleh mereka sedang berlangsung. Jika benar perempuan i tu ketangkapan berzinah; pertanyaannya mengapa perempuan itu saja yang di bawa? Bukankah laki-laki itu juga layak di lempari dengan batu? Sebabnya adalah motifnya yang salah. Bukan karena mereka sungguh berpegang pada hukum Musa. Bukan karena mereka ingin menegakkan Kebenaran itu. Tetapi  hukum Musa hanya di pakai untuk meloloskan niat mereka yang jahat. Sabda Allah di pakai hanya untuk membela dan sebagai alasan yang kuat untuk menutupi kejahatan mereka yang terselubung. Dan ini adalah kejahatan yang sangat berbahaya. Karena tidak saja menghancurkan bagian-bagian tertentu dari kehidupan seseorang. Cara ini benar-benar menghancurkan semua yang ada dan yang di miliki seseorang. Dalam Gereja sering Firman TUHAN dan Aturan Gereja di pakai. Tetapi kerapkali hanya untuk membela diri dan akan menunjukkan apa yang dikatakannya benar. Begitu banyak ahli-ahli Torat dan orang-orang Farisi masa kini. Mereka memakai Sabda Allah bukan karena ingin menegakkan Kebenaran itu; bukan karena kasih akan TUHAN. Karena motifnya untuk balas dendam dan untuk menunjukkan bahwa mereka juga bisa. Tetapi jangan lupa apapun juga yang di lakukan bila motifnya salah maka hasilnya akan buruk.   
Karena itu anak-anak Tuhan harus keluar dan meninggalkan kehidupan yang demikian. Anak-anak TUHAN bukannya memiliki kecenderungan untuk menghakimi dan menuduh orang lain begitu saja; untuk mencari rasa nyaman dan membalaskan dendam karena sakit hati mereka, sebab pernah di buat terluka. Tidak harus seperti itu tetapi kita harus memiliki kecenderungan untuk terus memperbaiki apa yang telah rusak. Dan terus membenahi hal-hal yang perlu di benahi dalam diri kita.
Sehingga tidak harus menghukum dengan melempari perempuan itu dengan batu karena dosa Zinah yang di lakukannya. Tetapi melakukan tindakan yang tepat dan benar yang membawa perempuan itu kepada tobat. Hingga akhirnya ia di selamatkan. Sebab jika perempuan itu di hukum karena dosa Zinah yang di lakukannya; bukankah mereka juga berbuat dosa?. Mungkin mereka tidak berzinah seperti perempuan itu. Tetapi dalam dosa lain mereka berkanjang. Seperti dalam hal dusta; mencobai; mencaci maki orang dan sebagainya. Siapakah yang tidak berdosa? Tentu semua berbuat dosa. Dan karena rasa diri berbuat dosa satu persatu pergi meninggalkan Yesus.
Seharusnya jika hal ini yang kita alami bukannya pergi meninggalkan Yesus. Tetapi dengan rendah hati mengakui dosa kita di hadapan TUHAN. Hari ini orang Kristen di tegur karena dosa yang di lakukannya langsung pergi dan meninggalkan Gereja. Bukan itu yang kita lakukan sebaliknya mengakui perbuatan dosa kita di hadapan-Nya dengan rendah hati. Sebab lebih baik kekuranganmu atau perbuatanmu di telanjangi daripada tidak.
Lalu bagaimanakah tindakan Yesus terhadap perempuan itu? Meskipun Yesus tidak berdosa, Ia tidak mengambil batu lalu melempari perempuan itu. Tetapi  memberi penegasan yang sangat menghibur perempuan itu dan mengajukan pertanyaan; Dimanakah mereka? Tidak adakah dari antara mereka yang melempari engkau dengan batu? ....  "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." Tidak dapat di bayangkan sukacita besar yang dialami perempuan itu. Benar-benar ia telah terlepas dari maut yang mengancam hidupnya. Sungguh ia tidak menyangka itu akan terjadi dan dialaminya. Tadinya dia hanya membayangkan batu-batu yang di lempar menimpa tubuhnya.  Sudah perkara pasti sekujur tubuhnya akan berlumuran darah. Akan tetapi semua itu tidak lagi menimpa dirinya. Tidak ada satu batupun yang di lempar dan tidak ada seorangpun yang berani mengulurkan tangannya mengambil batu dan melemparinya. Sebab berdosa. Demikianlah Yesus telah mengambil batu-batu itu, batu-batu itu tidak mengenai dan mnimpa perempuan itu lagi. Tubuhnya tidak lagi menderita sakit karena tertimpa batu. Yesus telah menyelamatkannya. Dosa-dosanya yang banyak itu di ampuni. Pergilah dan jangan lagi berbuat dosa mulai dari sekarang. Itulah pesan Yesus kepadanya. Itulah Injil atau kabar baik yang bukan saja hari itu di dengar oleh perempuan itu juga hingga sekarang Kabar baik itu di beritakan kepada kita semua juga hari ini. Kita tidak berbeda dari perempuan, kita layak di rajam dengan batu; kita layak mati karena dosa-dosa kita. Tetapi batu-batu itu telah mengenai dan menimpa Yesus. Ia telah menanggung hukuman itu ganti kita. Tubuh-Nya berlumuran darah. Sekarang kita boleh pergi; kita boleh menikmati kebebasan itu. Kita boleh di lepaskan dari kematian  itu. Karena itu jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang. Bukan nanti atau tunggu, tetapi mulai dari sekarang yakni sejak engkau di panggil dan di selamatkan; jangan dan jangan berbuat dosa lagi. Bukan besok dan nanti tapi mulai dari sekarang. Jangan tunda dan mengatakan ada waktunya saya bertobat. Sebelum terlambat, sebelum pintu di kunci dari dalam dan sebelum Yesus mengatakan; Aku tidak mengenal kamu. Bertobatlah!!!! Jangan, jangan dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang

Amin