Rabu, 25 Oktober 2017

Khotbsh Lukas. 20: 27 - 40



Waingapu, 08 Oktober 2017

Baca                : Injil Lukas.    20 : 27 – 40

Saudara–saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Hal pokok yang di jelaskan dalam perikop Firman TUHAN yang menjadi nas kita dalam kebaktian ini adalah tentang Kebangkitan. Di kalangan orang Yahudi kita kenal ada beberapa  kelompok orang; seperti orang Saduki, orang Farisi dan yang lainnya. Kelompok orang Saduki hanya mengakui kitab-kitab Torat, yakni Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan saja. Dan semua kepercayaan yang tidak berlandaskan Torat tidak mereka terima. Karena itu mereka juga menyangkal adanya kebangkitan. Berbeda dengan orang Farisi; mereka menerima adanya kebangkitan daging. Dan dalam nas kita di jelaskan bahwa orang-orang Saduki itu sengaja datang kepada Yesus dengan tujuan untuk menjebak Yesus dengan sebuah pertanyaan. Mereka tidak datang dengan tujuan atau motivasi yang luhur atau dengan maksud yang baik. Mereka datang bukan untuk mencari kebenaran dalam Yesus Kristus. Tetapi akan menunjukkan bahwa pendapat mereka benar. Penolakan akan adanya kebangkitan di balik kematian ini jelas terlihat dalam contoh yang mereka sampaikan kepada Yesus. Perempuan yang bersuamikan 7 orang secara berturut-turut seperti yang di jelaskan mereka membuat mereka harus bertanya kepada Yesus tentang siapakah kelak suami dari perempuan itu setelah kebangkitan?
Lalu bagaimanakah Yesus menjawab pertanyaan itu? Yesus menegaskan bahwa kelak setelah kebangkitan dari antara orang mati orang tidak kawin dan tidak dikawinkan. Dalam ayat 34-38 Kita membaca penegasan yang di sampaikan Yesus kepada orang-orang Saduki itu.
34 Jawab Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan,
35 tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam
     kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan.
36 Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-
     anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.
37 Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri,  
     di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.
38 Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua  orang hidup.
Jadi singkatnya kita melihat hal kawin mawin adalah hal yang berlangsung di dunia saat ini. Itu harus terjadi karena orang harus mengalami kematian. Bumi ini sesuai dengan janji TUHAN harus di penuhi. Tetapi kelak di bumi yang baru semua itu tidak ada lagi. Kawin dan dikawinkan tidak ada lagi. Sebab tidak ada lagi kematian, kecuali kematian kekal sebagai hukuman bagi mereka yang tidak percaya. Mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah. Kelak orang akan mengalami kesempurnaan. Dan berada dalam kekalan. Kelak kita menerima kemuliaan kita dan hidup mempermuliakan Tuhan saja.
Yang kedua Yesus menegaskan bahwa bukan hanya Dia saja juga Musa menegaskan bahwa ada kebangkitan; dalam kitabnya Musa  menulis bahwa Allah itu bukan Allah orang mati tetapi Allah orang hidup.  
Jadi dengan tegas Yesus menolak pandangan atau pendapat orang-orang Saduki itu; Bahwa benar ada kebangkitan orang mati.
Saudara-saudara yang kekasih, apakah arti Firman TUHAN ini bagi kita saat ini? Di kalangan orang-orang Marapu/kafir yakni mereka yang masih menyembah patung/berhala memiliki keyakinan yang sama seperti orang-orang Saduki di sini. Mereka menolak adanya kebangkitan di balik kematian ini. Karena itu prosesi kematian di buat begitu besar dan meriah; sebab dalam pemikiran mereka berakhir sudah semuanya. Semua orang mati di yakini berkumpul di satu tempat; yang untuk orang Sumba dan Sabu tempatnya adalah tanjung Sasar. Itulah sebabnya Kuda dan kerbau di potong pada prosesi penguburan; hatinya di masak dan di suguhkan kepada orang mati sebagai bekal dalam perjalanan menuju tanjung sasar dan sebagai kendaraan si mati ke tanjung Sasar. Sedangkan bagi orang Sabu Kapal layar yang di simbolkan dengan peti dan kain layar itu di persiapkan untuk si mati untuk berlayar ke Tanjung Sasar. Sebab itu ada kebiasaan bagi orang Sabu untuk membuka Kain dan di bentangkan diatas orang mati, yang keempat ujungnya di ikat. Kain itu dianggap sebagai layar dan peti itu sebagai perahu. Karena itu ketika peti diangkat kain yang buka tadi harus secara bersamaan di lepaskan. Orang Sumba tidak perlu kain seperti itu karena Tanjung Sasar itu ada di pulau Sumba.
Jika seperti itu keyakinan orang Marapu/orang Kafir. Bagaimaakah dengan keyakinana kita perihal kebangkitan itu? Yakinkah kita bahwa ada kebangkitan di balik kematian ini? Firman telah menegaskan kepada kita tentang adanya kebangkitan itu. Beberapa kali bahkan berulang-ulang kali penegasan tentang adanya kebangkitan di balik kematian itu. Seperti dalam 1 Kor. 15 seluruh pasal itu hanya berbicara soal kebangkitan. Sebab itu jangan mulai berpikir bodoh; apakah terjadi dengan bayi yang baru lahir yang langsung meninggal? Seperti apa keadaan mereka kelak? Bagaimana dengan ini dan itu? Bukan itu yang harus kita perhatikan! Bertanyakan TUHAN dan terus belajar dari Firman-Nya agar engkau mendapat Kebenaran itu. Sehingga betapapun mengerikan sebuah kematian yang terjadi kita tetap terhibur; karena kita tahu bahwa di balik kematian ini ada Kebangkitan.
  
Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar