Waingapu, 08 Oktober 2017
Baca : Injil Lukas. 20 : 27 – 40
Saudara–saudara
yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Hal pokok yang di jelaskan dalam perikop Firman
TUHAN yang menjadi nas kita dalam kebaktian ini adalah tentang Kebangkitan. Di kalangan orang Yahudi
kita kenal ada beberapa kelompok orang;
seperti orang Saduki, orang Farisi dan yang lainnya. Kelompok orang Saduki hanya mengakui kitab-kitab Torat, yakni Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan,
dan Ulangan saja. Dan semua kepercayaan yang tidak berlandaskan Torat tidak mereka terima. Karena itu mereka juga
menyangkal adanya kebangkitan.
Berbeda dengan orang Farisi; mereka menerima adanya kebangkitan daging. Dan dalam nas kita di jelaskan bahwa orang-orang Saduki itu sengaja datang
kepada Yesus dengan tujuan untuk menjebak Yesus dengan sebuah pertanyaan.
Mereka tidak datang dengan tujuan atau motivasi yang luhur atau dengan maksud
yang baik. Mereka datang bukan untuk mencari kebenaran dalam Yesus Kristus.
Tetapi akan menunjukkan bahwa pendapat mereka benar. Penolakan akan adanya
kebangkitan di balik kematian ini jelas terlihat dalam contoh yang mereka
sampaikan kepada Yesus. Perempuan yang bersuamikan 7 orang secara
berturut-turut seperti yang di jelaskan mereka membuat mereka harus bertanya
kepada Yesus tentang siapakah kelak suami dari perempuan itu setelah
kebangkitan?
Lalu bagaimanakah Yesus menjawab pertanyaan itu?
Yesus menegaskan bahwa kelak setelah kebangkitan dari antara orang mati orang tidak
kawin dan tidak dikawinkan. Dalam ayat 34-38 Kita membaca penegasan yang di
sampaikan Yesus kepada orang-orang Saduki itu.
34 Jawab
Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan,
35 tetapi mereka yang dianggap layak untuk
mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam
kebangkitan
dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan.
36 Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama
seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-
anak
Allah, karena mereka telah dibangkitkan.
37 Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah
memberitahukannya dalam nas tentang semak duri,
di mana
Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.
38 Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah
orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang
hidup.
Jadi singkatnya kita melihat hal kawin mawin
adalah hal yang berlangsung di dunia saat ini. Itu harus terjadi karena orang
harus mengalami kematian. Bumi ini sesuai dengan janji TUHAN harus di penuhi.
Tetapi kelak di bumi yang baru semua itu tidak ada lagi. Kawin dan dikawinkan
tidak ada lagi. Sebab tidak ada lagi kematian, kecuali kematian kekal sebagai
hukuman bagi mereka yang tidak percaya. Mereka sama seperti malaikat-malaikat
dan mereka adalah anak-anak Allah. Kelak orang akan mengalami kesempurnaan. Dan
berada dalam kekalan. Kelak kita menerima kemuliaan kita dan hidup
mempermuliakan Tuhan saja.
Yang kedua Yesus menegaskan bahwa bukan hanya Dia saja
juga Musa menegaskan bahwa ada kebangkitan; dalam kitabnya Musa menulis bahwa Allah itu bukan Allah orang
mati tetapi Allah orang hidup.
Jadi dengan tegas Yesus menolak pandangan atau
pendapat orang-orang Saduki itu; Bahwa benar ada kebangkitan orang mati.
Saudara-saudara yang kekasih, apakah arti Firman
TUHAN ini bagi kita saat ini? Di kalangan orang-orang Marapu/kafir yakni mereka
yang masih menyembah patung/berhala memiliki keyakinan yang sama seperti
orang-orang Saduki di sini. Mereka menolak adanya kebangkitan di balik kematian
ini. Karena itu prosesi kematian di buat begitu besar dan meriah; sebab dalam
pemikiran mereka berakhir sudah semuanya. Semua orang mati di yakini berkumpul
di satu tempat; yang untuk orang Sumba dan Sabu tempatnya adalah tanjung Sasar.
Itulah sebabnya Kuda dan kerbau di potong pada prosesi penguburan; hatinya di
masak dan di suguhkan kepada orang mati sebagai bekal dalam perjalanan menuju
tanjung sasar dan sebagai kendaraan si mati ke tanjung Sasar. Sedangkan bagi
orang Sabu Kapal layar yang di simbolkan dengan peti dan kain layar itu di
persiapkan untuk si mati untuk berlayar ke Tanjung Sasar. Sebab itu ada
kebiasaan bagi orang Sabu untuk membuka Kain dan di bentangkan diatas orang
mati, yang keempat ujungnya di ikat. Kain itu dianggap sebagai layar dan peti
itu sebagai perahu. Karena itu ketika peti diangkat kain yang buka tadi harus
secara bersamaan di lepaskan. Orang Sumba tidak perlu kain seperti itu karena
Tanjung Sasar itu ada di pulau Sumba.
Jika seperti itu keyakinan orang Marapu/orang
Kafir. Bagaimaakah dengan keyakinana kita perihal kebangkitan itu? Yakinkah
kita bahwa ada kebangkitan di balik kematian ini? Firman telah menegaskan
kepada kita tentang adanya kebangkitan itu. Beberapa kali bahkan berulang-ulang
kali penegasan tentang adanya kebangkitan di balik kematian itu. Seperti dalam
1 Kor. 15 seluruh pasal itu hanya berbicara soal kebangkitan. Sebab itu jangan
mulai berpikir bodoh; apakah terjadi dengan bayi yang baru lahir yang langsung
meninggal? Seperti apa keadaan mereka kelak? Bagaimana dengan ini dan itu?
Bukan itu yang harus kita perhatikan! Bertanyakan TUHAN dan terus belajar dari
Firman-Nya agar engkau mendapat Kebenaran itu. Sehingga betapapun mengerikan
sebuah kematian yang terjadi kita tetap terhibur; karena kita tahu bahwa di
balik kematian ini ada Kebangkitan.
Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar