Rabu, 25 Oktober 2017

Khotbah Yohanes. 8: 1 - 11




Waingapu, 17 September 2017

Injil Yohanes. 8 : 1 – 11

Saudara–saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Itulah perkataan Yesus kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Torat itu. Pertanyaannya Siapakah yang tidak berdosa? Tidak ada yang tidak berbuat dosa. Semua berbuat berdosa. Dalam Mazmur. 51; 7 Daud mengatakan:
Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku. Demikian juga dalam suratnya kepada sidang di Roma Paulus mengatakan:
"Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. (Rom. 3: 10-12).
Jika demikian berarti tidak ada yang berani mengulurkan tangannya mengambil batu lalu melempar perempuan itu. Tetapi bukankah ahli-ahli Torat dan orang-orang Farisi itu selalu menganggap dirinya suci alias tidak berdosa? Tetapi di depan Yesus mereka tidak dapat menyembunyikan dirinya. Meskipun mereka tidak mengakuinya secara langsung tetapi sikap mereka menegaskan bahwa mereka juga berbuat dosa.
Kita semua juga berdosa. Tetapi terkadang kita tidak menyadari dan insaf akan hal ini. Sehingga terkesan dan nampak dalam tindakan, perbuatan dan perkataan kita, kita menghakimi sesama kita tanpa kasih. Bahkan kita tidak merasa bersalah/berdosa dengan menuduh, menghakimi dan menghukum sesama kita. Begitu gampanag/mudah kita menuduh dan menghakimi sesama. Bahkan terkadang itu menjadi keseharian kita. Sehingga sepertinya hal menghakimi orang adalah hal yang biasa. Dan karena biasa merasa nikmat dan enak menuduh dan menghakimi orang lain. Kita tidak sadar bahwa dengan berbuat demikian kita tidak mencerminkan Injil Yesus Kristus itu. Begitulah perlahan-lahan tapi pasti Kasih yang di berikan Kristus itu mulai pudar dan terkikis dari kehidupan kita. Kita tidak bertanya diri: Siapakah kita terhadap sesama kita? Siapakah kita terhadap masalah yang menimpa sesama kita? Sehingga kita berani menuduh dan menghakiminya?
Mari kita lihat bersama-sama apa yang dikatakan rasul Yohanes dalam pasal ini. apakah hal itu juga disadari oleh orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Torat itu? Yohanes mencatat dalam Injilnya; Jika Yesus pagi-pagi benar telah berada lagi di Bait Allah untuk mengajar mereka yang datang kepada-Nya. Tidaklah demikian dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Torat. Sebagai para pemimpin umat mereka seharusnya berada di tengah-tengah umat itu; berada di bait Allah untuk mengajar umat Allah. Mereka harusnya gencar dan bertekun mengajar umat itu dalam kebenaran  Sabda itu. Akan tetapi bukan itu yang mereka lakukan. Dan kalaupun mereka ada di tengah-tengah umat Allah mereka melakukan itu hanya demi sebuah ketenaran dan popularitas. Tujuannya agar posisinya tetap mantap, stabil dan bertambah di kenal. Mereka gencar dan bertekun melakukan banyak hal hanya untuk mempertahankan posisi/kedudukan mereka. Termasuk diantaranya ketika mereka mencari-cari kesalahan untuk menjebak Yesus. Tujuannya hanya untuk menjatuhkannya dan dengan demikian mereka tetap di kenal sebagai pemimpin yang baik. Sebab kehadiran Yesus membuat mereka tidak nyaman. Kehadiran Yesus membuat Popularitas mereka menurun; sebab mereka semakin kehilangan pengikutnya dan tidak di percayai lagi. Kedudukan mereka sebagai pemimpin sangat terganggu.
Untuk menjebak Yesus mereka membawa seorang perempuan yang kedapatan Berzinah. Lalu seperti apakah tindakan Yesus terhadap perempuan itu? Apakah Yesus mengatakan sesuai hukum Musa perempuan ini layak di rajam dengan batu? Atau apakah Yesus melepaskan saja perempuan itu tanpa tindakan apapun? Yang pertama kita membaca Yesus menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan itu dilakukannya dua kali. Apa yang di tulis-Nya kita tidak tahu. Dan menanggapi pertanyaan mereka secara langsung tentu tidak terlalu penting. Karena mereka datang hanya untuk menjebak-Nya. Mereka datang bukan dengan motif yang baik.  Sikap Yesus ini tentu sangat membuat malu ahli-ahli Torat dan orang-orang Farisi itu.
Saudara-saudara, tidak perlu kehilangan energi menanggapi orang-orang yang datang dengan motif seperti itu. Sebab bagi mereka jawabanmu yang tepatpun tidak akan berguna. Sama halnya dengan Yesus di sini bila Yesus menjawab di rajam saja. Maka itu akan di jadikan alasan untuk menfitnah Yesus. Mereka bisa menuduh Yesus orang yang plan plin, orang yang tidak komitmen dan yang tidak tetap pendirian. Dan orang yang tidak komit tidak layak di jadikan panutan. Dan jika Yesus mengatakan jangan. Yesus akan di fitnah melawan hukum Musa. Karena itu dalam hal seperti ini kita harus belajar dari Yesus Kristus. Dan seperti Firman Tuhan mengatakan; ujilah segala roh apakah itu berasal dari Allah atau tidak. Kita harus bisa menilai dengan baik apa motif dari orang tersebut menanyakan dan melakukan itu.
Yang kedua Yesus mengatakan: "Barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Mendengar perkataan Yesus itu mereka diam, terkejut, terpaku dan tidak ada seorang pun yang berani melempar batu kepada perempuan itu karena mereka semua merasa diri berdosa. Dan satu persatu mereka pulang hingga tinggal Yesus sendiri dengan perempuan itu.
Saudara-saudara yang kekasih, ahli-ahli Torat dan orang-orang Farisi adalah orang-orang yang merasa dirinya paling benar, suci, merasa dirinya saleh, merasa dirinya hidup baik dan tidak pernah merasa diri berdosa. Sikap hidup inilah yang membuat mereka dengan mudah menghakimi orang lain. Sebab itu bagi mereka hanya ada satu pilihan saja yakni melempari perempuan yang berzinah itu dengan batu hingga mati. Begitu kejam dan bengis tindakan ahli-ahli Torat dan oranag-orang Farisi itu. Sungguh ketidakadilan tanpa di sadari oleh mereka sedang berlangsung. Jika benar perempuan i tu ketangkapan berzinah; pertanyaannya mengapa perempuan itu saja yang di bawa? Bukankah laki-laki itu juga layak di lempari dengan batu? Sebabnya adalah motifnya yang salah. Bukan karena mereka sungguh berpegang pada hukum Musa. Bukan karena mereka ingin menegakkan Kebenaran itu. Tetapi  hukum Musa hanya di pakai untuk meloloskan niat mereka yang jahat. Sabda Allah di pakai hanya untuk membela dan sebagai alasan yang kuat untuk menutupi kejahatan mereka yang terselubung. Dan ini adalah kejahatan yang sangat berbahaya. Karena tidak saja menghancurkan bagian-bagian tertentu dari kehidupan seseorang. Cara ini benar-benar menghancurkan semua yang ada dan yang di miliki seseorang. Dalam Gereja sering Firman TUHAN dan Aturan Gereja di pakai. Tetapi kerapkali hanya untuk membela diri dan akan menunjukkan apa yang dikatakannya benar. Begitu banyak ahli-ahli Torat dan orang-orang Farisi masa kini. Mereka memakai Sabda Allah bukan karena ingin menegakkan Kebenaran itu; bukan karena kasih akan TUHAN. Karena motifnya untuk balas dendam dan untuk menunjukkan bahwa mereka juga bisa. Tetapi jangan lupa apapun juga yang di lakukan bila motifnya salah maka hasilnya akan buruk.   
Karena itu anak-anak Tuhan harus keluar dan meninggalkan kehidupan yang demikian. Anak-anak TUHAN bukannya memiliki kecenderungan untuk menghakimi dan menuduh orang lain begitu saja; untuk mencari rasa nyaman dan membalaskan dendam karena sakit hati mereka, sebab pernah di buat terluka. Tidak harus seperti itu tetapi kita harus memiliki kecenderungan untuk terus memperbaiki apa yang telah rusak. Dan terus membenahi hal-hal yang perlu di benahi dalam diri kita.
Sehingga tidak harus menghukum dengan melempari perempuan itu dengan batu karena dosa Zinah yang di lakukannya. Tetapi melakukan tindakan yang tepat dan benar yang membawa perempuan itu kepada tobat. Hingga akhirnya ia di selamatkan. Sebab jika perempuan itu di hukum karena dosa Zinah yang di lakukannya; bukankah mereka juga berbuat dosa?. Mungkin mereka tidak berzinah seperti perempuan itu. Tetapi dalam dosa lain mereka berkanjang. Seperti dalam hal dusta; mencobai; mencaci maki orang dan sebagainya. Siapakah yang tidak berdosa? Tentu semua berbuat dosa. Dan karena rasa diri berbuat dosa satu persatu pergi meninggalkan Yesus.
Seharusnya jika hal ini yang kita alami bukannya pergi meninggalkan Yesus. Tetapi dengan rendah hati mengakui dosa kita di hadapan TUHAN. Hari ini orang Kristen di tegur karena dosa yang di lakukannya langsung pergi dan meninggalkan Gereja. Bukan itu yang kita lakukan sebaliknya mengakui perbuatan dosa kita di hadapan-Nya dengan rendah hati. Sebab lebih baik kekuranganmu atau perbuatanmu di telanjangi daripada tidak.
Lalu bagaimanakah tindakan Yesus terhadap perempuan itu? Meskipun Yesus tidak berdosa, Ia tidak mengambil batu lalu melempari perempuan itu. Tetapi  memberi penegasan yang sangat menghibur perempuan itu dan mengajukan pertanyaan; Dimanakah mereka? Tidak adakah dari antara mereka yang melempari engkau dengan batu? ....  "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." Tidak dapat di bayangkan sukacita besar yang dialami perempuan itu. Benar-benar ia telah terlepas dari maut yang mengancam hidupnya. Sungguh ia tidak menyangka itu akan terjadi dan dialaminya. Tadinya dia hanya membayangkan batu-batu yang di lempar menimpa tubuhnya.  Sudah perkara pasti sekujur tubuhnya akan berlumuran darah. Akan tetapi semua itu tidak lagi menimpa dirinya. Tidak ada satu batupun yang di lempar dan tidak ada seorangpun yang berani mengulurkan tangannya mengambil batu dan melemparinya. Sebab berdosa. Demikianlah Yesus telah mengambil batu-batu itu, batu-batu itu tidak mengenai dan mnimpa perempuan itu lagi. Tubuhnya tidak lagi menderita sakit karena tertimpa batu. Yesus telah menyelamatkannya. Dosa-dosanya yang banyak itu di ampuni. Pergilah dan jangan lagi berbuat dosa mulai dari sekarang. Itulah pesan Yesus kepadanya. Itulah Injil atau kabar baik yang bukan saja hari itu di dengar oleh perempuan itu juga hingga sekarang Kabar baik itu di beritakan kepada kita semua juga hari ini. Kita tidak berbeda dari perempuan, kita layak di rajam dengan batu; kita layak mati karena dosa-dosa kita. Tetapi batu-batu itu telah mengenai dan menimpa Yesus. Ia telah menanggung hukuman itu ganti kita. Tubuh-Nya berlumuran darah. Sekarang kita boleh pergi; kita boleh menikmati kebebasan itu. Kita boleh di lepaskan dari kematian  itu. Karena itu jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang. Bukan nanti atau tunggu, tetapi mulai dari sekarang yakni sejak engkau di panggil dan di selamatkan; jangan dan jangan berbuat dosa lagi. Bukan besok dan nanti tapi mulai dari sekarang. Jangan tunda dan mengatakan ada waktunya saya bertobat. Sebelum terlambat, sebelum pintu di kunci dari dalam dan sebelum Yesus mengatakan; Aku tidak mengenal kamu. Bertobatlah!!!! Jangan, jangan dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang

Amin  

3 komentar: